Catatan Lapanganku, Belajar sebagai seorang Etnografer Pemula
Jumat, 24 Juni 2016
Fri 24 Jun 2016, 9:30am–4:10pm
The Maritime Room, Princes Wharf, Corner Quay and Lower Hobson Street, CBD, Auckland
Kususurin lautan di pinggiran Auckland, Selandia Baru dari akomodasi dimana saya dan keluarga kecil saya tinggal di rantau. Hati saya cukup gembira, karena tempat seminar kali ini cukup 15 menit jalan kaki dari kamar mungil kontrakan kami. Bahagia bertambah, karena saya diperbolehkan membawa si mungil Adilla.
Saat ini, saya membawa serta anak mungil saya, Adilla, 1 tahun 2 bulan. Sang kakak lagi sekolah, jadi saya cuma bawa satu anak, suatu kebiasaan saya untuk membawa serta anak-anak dalam kegiatan ini. Tetapi saya biasanya selalu bertanya via email, boleh ndak saya bawa anak dalam kegiatan seminar ini dan panitia menjawa boleh....
Sesampainya di seminar yang dilaksanakan oleh organisasi Perempuan positif atau women positive di Auckland yang bertempat di ruangan The Maritime Room, Princess Wharf, Corner Quay and Lower Hobson Street, CBD, Auckland, saya memilih duduk di sofa, karena memudahkan Adilla untuk berbaring, dan bermain dibandingkan pada meja bulat, ya saya pikir, di pojok lebih aman.
Sejalan 7 jam seminar, Mata saya tertuju pada dua kisah inspiratif yang saya ingin bagikan kepada teman-teman, Fatima Al Maery dan Marguriette.
Ya Fatima yang terlahir positif HIV, dan hingga menginjak usianya 21 tahun dan Marguriette-60 tahun, hidup tua dengan HIV setelah 20 tahun terdiagnosa HIV.
Fatima Al Maery, 21 tahun
Setelah Fatima memberikan pengalaman hidupnya pertama kalinya diseminar ini, saya berusaha mendekati beliau pada waktu istirahat atau break session. Adilla lagi tidur distrollernya.
Dia merokok di luar ruangan dan lagi menelpon seseorang. Aku menunggu Fatima menyelesaikan telponya.
Lalu saya membawa makanan dan mendekatinya. Penasaran awal saya itu dengan namanya loch, saya kira 'Islam' Fatima. Lalu, saya bertanya, apakah kamu percaya Tuhan (do you believe in God?)
Ya, dulu saya percaya Tuhan, sekarang saya memilih menjadi Atheist, tidak percaya Tuhan...
Saya bilang, saya terinspirasi dengan cerita anda, luar biasa dan bisa bertahan hidup, lalu dia menambahkan cerita hidupnya kepada saya sambil menikmati sandwich, makanan ala-ala disini...
Dia cerita kepada saya, ibunya itu 'bule' dan bapaknya itu dari Timur Tengah. Dia punya kakak yang bebas dari HIV, namun ketika sang ibu melahirkan Fatima, dia teridentifikasi positif HIV. Hati sang ibu kacau saat itu dan bertanya kepada suami, kenapa dia menularkan HIVnya kepadanya.
Sang ayah berusaha meminta maaf karena masa lalunya yang pernah berhubungan seksual tidak aman pada wanita lain. Sayangnya sang ayah, memutuskan tidak mengikuti pengobatan dan sang ibunda dan Fatima memilih berikhtiar, untuk mengakses pengobatan. Sang ayah telah tiada beberapa tahun setelah tahu status HIVnya dan merasa bersalah terhadap dirinya sendiri karena menularkan HIVnya kepada sang istri dan anak. Itu pilihan ayah saya, dia bilang...
Menjalani masa kecilnya, dia hanya tau sang ibu memberi obat kecil itu setiap hari kepadanya dan pada usia 20 tahun dia memutuskan untuk punya pasangan klu bahasa kita punya partner tanpa ikatan pernikahan (dan disini lazim yach) dan sekarang sudah mempunyai anak bebas HIV. Luar biasa..
Pada masa mudanya, dia bercerita, dia sangat perlu bernegosiasi untuk menggunakan Pengaman-Kondom pada pasangannya sebelum ah ah....Menarik ya...Dia tidak mau menularkan HIVnya kepada pasanganya, walau resiko itu sedikit kalau yang telah mengkonsumsi ARV, tetapi kemungkinan tetap ada. ya Semua ikhtiar dia usahakan...buat melindungi pasanganya...
"Saya belajar, terimakasih Fatima". Bagaimana dukungan sang ibu yang bisa move on dan mensupport Fatima, dan beliau memilih ikhtiar untuk mengakses pengobatan, yang bukan untuk menyembuhkand dari HIV, tetapi untuk mengurangi proses beranaknya si virus, sehingga virus tidak lahap memakan sel darah putih di dalam tubuh sang anak dan sang ibu. Dan pastinya dia mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat.
Margueritte, 60 Tahun
Beliau ini seorang eyang, nenek dan ibu serta tingga bersama pasanganya selama 16 tahun dan tinggal di Picton, Selandia Baru Beliau sudah menjadi motivator dan pekerja sosial di lembaga Positive Women setelah mengalami stroke 5 tahun silam. Beliau adalah 'stroke survivor'. Beliau bercerita, setelah tua, adalagi tantangan buat kami, bukan hanya dengan HIV, tetapi ancaman penyakit-penyakit tidak menular atau degeneratif yang umumnya menyerang orang diatas usia 50 tahun. Ya beliau melewati fase terserang Stroke dan sekarang beliau memilih pekerja sosial hingga sekarang.
Di masa lalunya, dia tertular lewat jarum suntik tidak steril. Dia juga ada Hepatitis C. Dia sekarang sudah bertahan 20 tahun hidup dengan HIV. Beliau memilih untuk mengakses pengobatan ARV di Selandia Baru dan menjadi Icon Wanita Positif HIV yang bertahan dengan HIV hingga tua dengan pengobatan ARV di Selandia Baru, yang dia akses setiap bulanya dan hanya membayar $5. Ya disini, obat-obatan tidak ada yang gratis, kita tetap membayar, minimal $5 , ini adalah obat-obatan yang disubsidi pemerintah.
Pesan beliau sederhana, saya catat di diary saya itu
Fatima Al Maery, 21 tahun
Setelah Fatima memberikan pengalaman hidupnya pertama kalinya diseminar ini, saya berusaha mendekati beliau pada waktu istirahat atau break session. Adilla lagi tidur distrollernya.Dia merokok di luar ruangan dan lagi menelpon seseorang. Aku menunggu Fatima menyelesaikan telponya.
Lalu saya membawa makanan dan mendekatinya. Penasaran awal saya itu dengan namanya loch, saya kira 'Islam' Fatima. Lalu, saya bertanya, apakah kamu percaya Tuhan (do you believe in God?)
Ya, dulu saya percaya Tuhan, sekarang saya memilih menjadi Atheist, tidak percaya Tuhan...
Saya bilang, saya terinspirasi dengan cerita anda, luar biasa dan bisa bertahan hidup, lalu dia menambahkan cerita hidupnya kepada saya sambil menikmati sandwich, makanan ala-ala disini...
Dia cerita kepada saya, ibunya itu 'bule' dan bapaknya itu dari Timur Tengah. Dia punya kakak yang bebas dari HIV, namun ketika sang ibu melahirkan Fatima, dia teridentifikasi positif HIV. Hati sang ibu kacau saat itu dan bertanya kepada suami, kenapa dia menularkan HIVnya kepadanya.
Sang ayah berusaha meminta maaf karena masa lalunya yang pernah berhubungan seksual tidak aman pada wanita lain. Sayangnya sang ayah, memutuskan tidak mengikuti pengobatan dan sang ibunda dan Fatima memilih berikhtiar, untuk mengakses pengobatan. Sang ayah telah tiada beberapa tahun setelah tahu status HIVnya dan merasa bersalah terhadap dirinya sendiri karena menularkan HIVnya kepada sang istri dan anak. Itu pilihan ayah saya, dia bilang...
Menjalani masa kecilnya, dia hanya tau sang ibu memberi obat kecil itu setiap hari kepadanya dan pada usia 20 tahun dia memutuskan untuk punya pasangan klu bahasa kita punya partner tanpa ikatan pernikahan (dan disini lazim yach) dan sekarang sudah mempunyai anak bebas HIV. Luar biasa..
Pada masa mudanya, dia bercerita, dia sangat perlu bernegosiasi untuk menggunakan Pengaman-Kondom pada pasangannya sebelum ah ah....Menarik ya...Dia tidak mau menularkan HIVnya kepada pasanganya, walau resiko itu sedikit kalau yang telah mengkonsumsi ARV, tetapi kemungkinan tetap ada. ya Semua ikhtiar dia usahakan...buat melindungi pasanganya...
"Saya belajar, terimakasih Fatima". Bagaimana dukungan sang ibu yang bisa move on dan mensupport Fatima, dan beliau memilih ikhtiar untuk mengakses pengobatan, yang bukan untuk menyembuhkand dari HIV, tetapi untuk mengurangi proses beranaknya si virus, sehingga virus tidak lahap memakan sel darah putih di dalam tubuh sang anak dan sang ibu. Dan pastinya dia mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat.
Margueritte, 60 Tahun
Beliau ini seorang eyang, nenek dan ibu serta tingga bersama pasanganya selama 16 tahun dan tinggal di Picton, Selandia Baru Beliau sudah menjadi motivator dan pekerja sosial di lembaga Positive Women setelah mengalami stroke 5 tahun silam. Beliau adalah 'stroke survivor'. Beliau bercerita, setelah tua, adalagi tantangan buat kami, bukan hanya dengan HIV, tetapi ancaman penyakit-penyakit tidak menular atau degeneratif yang umumnya menyerang orang diatas usia 50 tahun. Ya beliau melewati fase terserang Stroke dan sekarang beliau memilih pekerja sosial hingga sekarang.
Di masa lalunya, dia tertular lewat jarum suntik tidak steril. Dia juga ada Hepatitis C. Dia sekarang sudah bertahan 20 tahun hidup dengan HIV. Beliau memilih untuk mengakses pengobatan ARV di Selandia Baru dan menjadi Icon Wanita Positif HIV yang bertahan dengan HIV hingga tua dengan pengobatan ARV di Selandia Baru, yang dia akses setiap bulanya dan hanya membayar $5. Ya disini, obat-obatan tidak ada yang gratis, kita tetap membayar, minimal $5 , ini adalah obat-obatan yang disubsidi pemerintah.
Pesan beliau sederhana, saya catat di diary saya itu
"Pengalaman adalah guru tersulit, dia memberikan ujian terlebih dahulu, dan pelajaran hidup setelahnya"-->"Experience is the hardest kind of teacher. It gives you the test first and the lesson afterwards!"
**Selamat berjuang, pilihan ada ditangan anda, dan hidup harus terus berlanjut**
**Sumber foto: Foto didalam blog ini adalah buku mungil seminar kit dari seminar yang disediakan oleh panitia, 24 Juni 2016**


No comments:
Post a Comment