Friday, February 9, 2018

OPINI:QUO VADIS PENANGANAN IBU POSITIF HIV ?

QUO VADIS PENANGANAN IBU POSITIF HIV ?
(Refleksi kasus Kota Palembang)



BELAJAR DARI KASUS HIV DI PALEMBANG DAN SEKITARNYA

Sebut saja, Bicik Oda (bukan nama sebenarnya), ibu positif HIV, memiliki lebih dari dua anak dan ‘single parent’. Bicik Oda tau status HIV nya setelah dua tahun kematian suaminya. Ketika si bungsu harus dirawat di sebuah rumah sakit dan harus ikut prosedur pemeriksaan darah, termasuk tes HIV-hasilnya anaknya POSITIF HIV. Dia hanya tau suaminya meninggal dunia karena penyakit Paru-paru empat tahun silam. Dia tetap bersyukur anak-anak lainnya negatif HIV dan mereka yang menguatkan sang ibunda dan si adik buat selalu makan obat ARV (Anti Retroviral)  untuk mengendalikan si virus cantik ditubuh mereka. Bicik Oda pun berjuang hidup dan berdoa berumur panjang dan tetap sehat sehingga dia bisa menafkahi anak, walau kerja serabutan.

Kasus HIV lainnya- Si Tulip (bukan nama sebenarnya), anak terinfeksi HIV, kedua orang tuanya telah meninggal dunia, dia diasuh oleh nenek kakeknya. Awalnya sang cucu sering sakit-sakitan dan dirawat di rumah sakit Setiap bulan. Sang cucu sekarang sudah bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.  Sang nenek dan kakek harus ke rumah sakit untuk mengambil obat ARV sang cucu. Sang kakek nenek hanya tau, anaknya (ayah Cantik) meninggal karena sakit sakitan, batuk terus menerus, disusul oleh sang ibunda Cantik.

Kasus lainnya Si Kenanga (bukan nama sebenarnya), ibu dengan anak yang kurang nutrisi ini baru tahu anaknya positif HIV pada saat anaknya belum genap 3 tahun setelah dirujuk ke rumah sakit pemerintah dan dilakukan tes HIV. Walau sudah bolak -balik berobat di layanan bergengsi tetapi kenanga tidak pernah ditawarkan tes HIV. Perawatan fokus pada malnutrisinya dan infeksi saja.  Lalu sang bunda juga baru sadar, ada si virus ini ditubuhnya. Beruntungnya, sang suami yang negatif HIV tetap memberikan dukungan kepada sang istri.

“Seorang dokter Kandungan ternama, segera memeriksakan diri ‘tes HIV’ setelah salah satu petugas kesehatan menginformasikan bahwa ibu X melahirkan di dokter bersangkutan tanpa membuka status HIVnya”

"Aku perempuan positif, dan aku memutuskan untuk tidak mengakses pengobatan ARV dan memilih pengobatan alternatif, menurutku, aku sehat, itu pilihan hidupku"....

Ini adalah salah satu sekelumit kecil cerita mereka dan bermakna besar bagi kehidupan ibu positif HIV, anak positif dan tenaga kesehatan di KOTA PALEMBANG, dimana saya dilahirkan, dan dibesarkan, selama saya belajar lapangan dengan para ibu positif HIV, tenaga kesehatan, dan pendamping yang peduli dengan mereka. Ya, HIV pada ibu dan anak telah menjadi trend pada setidaknya lima tahun terakhir sebagai kelompok beresiko lainnya yang dapat tertular HIV. Tenaga kesehatan pun menjadi tertular HIV dengan banyaknya kasus HIV yang belum teridentifikasi atau pun ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) memutuskan untuk menutup status HIVnya. Salah satu dokter kandungan peduli HIV di Kota Palembang, menyebutkan “kasus HIV ini bukan lagi seperti fenomena Gunung Es, tetapi fenomena IKAN PAUS, yang hanya kelihatan sirip atasnya saja, tetapi tubuh besarnya masih tenggelam didalam air, ya 1 kasus yang tampak bisa mewakili 30-100 kasus HIV yang masih belum teridentifikasi”.  Ya masih banyak dluar sana, kasus HIV pada ibu dan anak yang belum teridentifikasi.


Kompleksitas Penularan HIV (Suara Ibu Positif Kota Palembang, April 2017)

MEMUTUS MATA RANTAI STIGMA DAN DISKRIMINASI
Di Indonesia, status HIV masih menjadi rahasia, yang tau hanya pasien positif dan tim yang melakukan pemeriksaan HIV atau di layanan tertentu. Sehingga, jika Ibu positif akses layanan di tempat lainnya, misal dia periksa HIV di Rumah Sakit A untuk status HIVnya,  dan dia melahirkan normal di Bidan B atau Dokter H di Layanan kesehatan lainnya, tanpa membuka status HIVnya atau pun si anak A tidak melakukan khitan di Rumah sakit, tetapi ikut sunat massal di kampungnya. Ya sebagian dari mereka memutuskan untuk tidak membuka status HIV mereka ketika mengakses layanan kesehatan.

Stigma yang buruk berkontribusi pada pengalaman pahit  ibu positif ketika mengakses suatu layanan kesehatan dan membuka status HIVnya. Mereka cenderung akan menutup status HIVnya pada akses ke layanan selanjutnya. Ya, mereka MENDISKRIMINASI DIRI SENDIRI (self-imposed discrimination) sebagai akibat ketakutan diri sendiri akan adanya penolakan dari suatu akses layanan kesehatan atau penolakan di masyarakat ketika mereka telah mempunyai pengalaman pahit sebelumnya.

Beda di negara dimana saya sedang belajar, ketika saya hamil saya wajib periksa darah termasuk HIV pada bulan pertama dan sebelum melahirkan. Jikalau ada ibu hamil positif, pemeriksaan akan lebih diintensifkan. Disamping itu juga, semua satu pintu, saya hanya diminta untuk mengakses satu bidan dari awal kehamilan hingga melahirkan. Dan juga, tenaga kesehatan bisa mengetahui status HIV saya sama halnya dengan hasil pemeriksaan darah lainnya dengan mudah dengan memasukkan identitas no kesehatan saya disini, dikenal dengan NHI (National Health Index), dan bidan atau tenaga kesehatan yang merawat saya akan dinotifikasi atau diberikan surat khusus jika pasienya terinfeksi HIV. Dan pastinya, mereka pun tidak menyebarkan status HIV pasien ke orang lain. Mereka butuh tau status HIV pasien mereka untuk penanganan kesehatan yang tepat. Namun hal ini masih menjadi tantangan sepertinya dilakukan pada kondisi masyarakat Indonesia.


Mengedukasi diri sendiri dan Kewaspadaan Universal
HIV itu tidak mematikan, yang mematikan itu STIGMA dan DISKRIMINASI, kata-kata dari ibu positif Kota Palembang. Ada beberapa kasus HIV yang saya temukan di Kota Palembang, sang suami bisa bertahan hidup hingga sekarang walau sudah sangat sakit-sakitan (infeksi opportunistik, stadium 3 HIV), namun ada juga sang suami meninggal dunia tidak lama tahu status HIVnya karena sang keluarga menjauhin mereka.

HIV tidak mudah menular, Prinsip ESSE
HIV sangat tidak mudah tertular jika ke empat prinsip ini terjadi bersamaan. - Exit (harus keluar dari tubuh yang terinfeksi HIV-air susu ibu positif HIV, cairan melalui alat kelamin (air mani, per-cum-cairan yang keluar sebelum ejakulasi) dan cairan yang keluar dari leher Rahim)-Sufficient: cukup jumlah virus untuk menginfeksi--Survive: virus dapat betahan hidup di luar tubuh manusia, 4 menit secara teori si virus bisa mati di udara terbuka--Enter: Masuk ke dalam tubuh orang negatif -menyusui anaknya, hubungan seksual, luka yang terbuka. Contoh sederhana, HIV akan tidak mudah tertular, jika kita bersentuhan dengan darah ibu positif HIV dan kita tidak mempunyai luka terbuka. Atau pun tidak mudah menular pada pasangan kita dmana sang pasangan positif HIV telah mengkonsumsi obat ARV (Antiretroviral) dan menggunakan kondom saat hubungan seksual. 


Tenaga Kesehatan
Teman teman tenaga kesehatan, tetap harus melakukan kewaspadaan universal, setiap kasus itu dianggap kasus infeksi, jadi SOP harus tetap dijalankan. Sterilisasi alat medis sesuai prosedur, satu alat suntik untuk satu orang, prosedur anamnesa pada pasien tetap dijalankan, terlepas padatnya pasien. Satu pasien dialokasikan 15-30 menit dinegara maju untuk konsultasi pengobatan, namun sangat jarang sekali terjadi di Palembang.

Mencoba berinteraksi dengan ODHA, dan meyakinkan apa yang kita tahu itu’ HIV tidak menular lewat sentuhan tangan, makan bersama, menggunakan pakainan atau alat lainnya bersama, tidak menular dari gigitan nyamuk dll’ ke dalam perilaku kita ketika merawat atau melayani ODHA di layanan kesehatan.

Senyum dan berikan pelayanan maksimal. “Posisikan jika anda berada diposisi mereka, bagaimana anda mau diperlakukan atau dilayani?” Pesan tenaga kesehatan yang peduli ODHA.

Dr. Amir Fauzi, SPOG (k), Dokter Spesialis Obgyn yang Popular dikalangan Ibu Positif  Kota Palembang

Teman-teman Positif
Untuk teman teman positif HIV, tetap mengedukasi diri, baik dari komunitas yang ada atau membaca melalui dunia maya untuk tetap sehat dan meminimalisir penularan HIV pada pihak lainnya, baik ke sang anak dengan akses program PENCEGAHAN PENULARAN HIV, HEPATITIS DAN SIFILIS DARI IBU KE ANAK, silakan tanya ke bagian VCT atau kebidanan puskesmas/rumah sakti terdekat atau ke pendamping/pengjangkau anda atau lewat dunia maya. Tidak mudah membuka status HIV itu, tapi cobalah dilakukan dengan bantuan tim tenaga kesehatan peduli HIV, mereka siap membantu anda mengakses layanan kesehatan lainnya diluar pengobatan ARV, berkomunikasilah dengan mereka. Atau pun jika anda belum sanggup membuka status HIV, lakukan layanan medis di tempat yang sistem kewaspadaan universalnya telah baik, tidak membuka peluang penularan HIV pada tenaga kesehatan maupun ke pasien selanjutnya.

Terakhir apapun pilihan anda, itu ikhtiar masing-masing, akses pengobatan atau tidak.....
Ada teman yang tidak ingin mengambil 1 % resiko penularan kepada anaknya, dengan akses PPIA (Pencegahan penularan HIV dari Ibu ke anak) di dua Rumah Sakit di Palembang, RSMH dan RS Charitas, dan ada memilih jalan lainnya dengan melahirkan pada bidan terdekat dengan status HIVnya karena kentalnya stigma terhadap mereka ataupun karena mereka tidak mempunyai pilihan lain atau alasan lainnya

Masyarakat
Untuk masyarakat, termasuk saya sendiri harus mengedukasi diri saya sendiri, Stigma ini bisa berkurang, ketika saya berinteraksi dengan mereka, makan bareng, dan ‘Ngopi bareng’ dan saling berpelukan. Kita belajar memposisikan diri, bagaimana kita ingin diperlakukan?

Saya, sebagai ibu tiga balita dan sebagai orang kesehatan, pastinya, tidak mudah untuk memahami kondisi mereka tentunya. Saya punya keistimewaan dapat mengakses layanan kesehatan tanpa takut akan ‘Stigma dan Diskriminasi’ yang menjadi momok bagi mereka. Tetapi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk merangkul mereka, merefleksikan diri bagaimana jika kita berada diposisi mereka?

QUO VADIS…?

Mau di bawa kemana penanganan HIV di KOTA Palembang-QUO VADIS? Itu merupakan tugas bersama setiap elemen yang bertanggung jawab terhadap permasalahan ini.

Seyogyanya, jika ingin berandai-anda. semua ini bisa dicegah, jika 2-3 tahun yang lalu sesuai Permenkes 51 tahun 2013, langsung ditangkap oleh semua komponen dan sudah diwajibkan tes HIV pada ibu hamil, ataupun satu dekade yang lalu ‘SLOGAN HIV MEMATIKAN’ dan Promosi Kesehatan yang menggambarkan orang HIV itu ‘KURUS, JELEK, DAN TIDAK SEHAT’ itu segera digantikan dengan ‘MARI PERIKSA HIV, DEMI KESEHATAN ANAK, IBU DAN TENAGA KESEHATAN’ atau pun slogan promosi kesehatan lainnya. Mungkin, sudah banyak kasus HIV pada anak sudah dapat dicegah dan banyak masyarakat yang berani mengakses tes HIV, dan yang sudah tau status HIV, serta segera berobat di layanan VCT terdekat, Namun ini masih mimpi yang perlahan bisa kita wujudkan bersama sedikit demi sedikit.

Dinas Kesehatan Kota Palembang dan Sumatera Selatan, lagi gencar-gencarnya mensukseskan ‘TRIPLLE E’, Eliminasi HIV, Hepatitis dan Sifilis tahun 2016-2017. 

Jadi buat ibu hamil atau merencanakan kehamilan, sebaiknya akseslah program ini ke puskesmas terdekat demi kesehatan ibu dan anak. Semua bidan praktek swasta dan dokter kandungan, sebaiknya merujuk pasienya untuk melakukan pemeriksaan ini, tanpa biaya, atau melakukan pemeriksaan darah rutin ditambah dengan HIV, Hepatitis dan Sifilis untuk mensukseskan program ini. Anda menawarkan Tes HIV atau pun mewajibkan Tes HIV, anda telah berkontribusi untuk memutus mata rantai HIV pada generasi selanjutnya.

Suatu program tidak bisa berjalan dengan mulus TANPA 1) kepedulian nakes ‘untuk tidak ingin tahu’ dengan hasil tes pasien tim program HIV, 2) informasi yang komprehensif untuk sang ibu, 3) memanusiakan teman teman yang positif, karena tidak ada yang mau positif HIV pada dasarnya, dukunglah mereka dengan hati nurani kita, 4) kolaberasi seluruh pihak.

Para pengambil kebijakan yang telah fokus pada program pencegahan dan pelayanan HIV, terimakash atas upayanya. Dengan sekali-kali turun ke lapangan dan berinteraksi dari teman teman yang positif mungkin akan membuka jendela untuk keberhasilan suatu program HIV yang bukan hanya tanggung jawab satu institusi saja. Ya HIV, bukan hanya masalah Kesehatan, tetapi juga mencakup Sosial, Agama, Budaya dan lainnya.

Tidak selamanya kita akan tergantung ‘Proyek’ dan lembaga Donor untuk menyetujui anggaran buat program HIV dan momok ‘TARGET-TARGET dan TARGET’. 

Masih banyak ibu dan anak yang telah terinfeksi HIV tanpa mereka tahu status HIV mereka, terutama di daerah luar Palembang yang masih minim program HIV. Bukan rahasia lagi, kegiatan berkaitan HIV dikenal dengan proyek bagi semua pihak, dari berbagai lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah (NGO/LSM). Ke depan, mudah-mudahan semua pihak bisa duduk dan ‘Ngopi bareng’ dan melepas sekat ‘ruang rapat’ dalam melakukan monitoring dan evaluasi, karena tidak semua bisa diselesaikan di meja rapat. Jangan sampai ada bilang ’ ini ODHA saya, ini Pasien saya, atau ini Jangkauan saya’.



Kami, ODHA, milik kami sendiri, untuk hidup sehat dan ceria, cetus salah satu Ibu positif Palembang. Selamat hari HIV/AIDS 1 Desember 2017

No comments:

Post a Comment