Friday, February 9, 2018

PESAN MORAL DR AMIR FAUZI, SPOG (k): MERANGKUL ODHA, Kenapa tidak??

PESAN MORAL DR AMIR FAUZI, SPOG (k): MERANGKUL ODHA, Kenapa tidak??




Saya banyak dengan beliau, dan saya telah bertemu dengan beliau 3x selama saya belajar ilmu kehidupan dengan beliau. Pada saat yang sama saya lagi hamil 8 bulan, Juni 2017.

Ya, beliau mengajarkan saya, akan pentingnya kepedulian tenaga kesehatan terhadap semua pasiennya, termasuk pasien dengan positif HIV.

Saya berdoa banyak lagi regenerasi tenaga kesehatan seperti beliau yang tidak hanya peduli terhadap pasienya positif HIV tetapi juga menginspirasi teman-teman sejawat untuk peduli dengan pasien HIV.

Ya, terkadang sungguh disayangkan, masih minim dari kalangan tenaga kesehatan yang akan tersenyum lebar dan melayani dengan hati ketika sang ibu positif membuka status HIV mereka, tapi generasi tenaga kesehatan peduli ODHA, tetap ada dan akan terus bertambah dengan adanya video ini. Dan saya yakin, seringkali diskriminasi itu tidak sengaja diantara kalangan tenaga kesehatan, mereka cuma ingin melindungi diri dari tertular HIV, atau melindungi teman mereka untuk perlindungan maksimal ketika ada pasien HIV, ya itu manusiawi. Atau pun terkadang, diskriminasi itu ada di dalam pasien positif sendiri, takut di diskriminasi, takut ketahuan ada orang lain yang kenal mereka, ketakutan tidak dilayani kalau pun beliau buka status HIV, ya kita harus paham, sulitnya hidup dengan HIV di kalangan masyarakat Indonesia yang masing kurang 'Update' pengetahuan terkait HIV.

Tetapi terkadang saya salut sama ibu positif HIV, EGP...Emang Gue Pikirin, yang penting anak-anakku dan aku sehat, gituch ajach...

Disini, tidak untuk saling menyalahkan, tetapi saling mendukung dan intropeksi bersama, bagaimana ke depan yang lebih baik, memutus rantai penularan HIV pada generasi selanjutnya, Bayi tak berdosa itu....


Terimakash dokter Amir, itu sapaan yang akrab bagi para ibu positif HIV di Palembang yang telah melahirkan dengan beliau.


Beliau tidak pernah bertanya sepanjang perjalanan hamil hingga kelahiran anak saya, Ibu dapet HIVnya dari mana, tetapi beliau hanya melayani saya dan memotivasi saya, 
anak ibu bisa tidak tertular HIV.........

Putri, 30 tahun, HIV positif dan suami positif HIV, anak sudah berusia- 5 tahun bebas HIV


Aku ini anak aku sehat.......
Mulan, 28 tahun, Suami pertama positif (meninggal)
Suami kedua negatif HIV, anak 3 bulan



PESAN MORAL DR AMIR FAUZI, SPOG (k): MERANGKUL ODHA, Kenapa tidak??

Untuk petugas kesehatan, kasus HIV adalah kasus yang sangat ditakuti, tetapi sebenarnya tidak perlu ditakuti karena kalau kita takut,
Kita akan seperti seorang yang berkelahi : akan lebih enak kalau kita berkelahi berhadap-hadapan daripada kita dipukul dari belakang. Nah, seperti itu juga pasien HIV, pasien HIV itu kalau mereka tidak mengaku, itu seperti kita dipukul dari belakang. Kalau mereka mengaku, kita berhapan dan kita lebih waspada untuk menanganinya. Sehingga, kalau pasien HIV ini dirangkul, mereka juga akan lebih terbuka dan kita juga lebih aman menangani pasien ini, lebih waspada daripada kalau mereka tidak mengaku. Sebagai pengidap HIV maka, lebih tidak aman bagi kita apalagi dengan pelayanan kesehatan yang tidak standar, kalau pasien kita layani dengan standar yang baku, kita pun akan lebih terlindungi. Daripada mereka tidak mengaku, maka yang lebih ditekankan bahwa penularan untuk anaknya akan lebih tinggi kalau mereka tidak mengaku, soalnya pelayanan untuk persalinan pada ibu hamil dengan ibu hamil dan yang lainnya itu lebih cenderung ada sedikit perlakuan khusus, sehingga penularannya akan lebih sedikit. Jadi untuk petugas kesehatan, marilah bersama-sama kita merangkul pasien HIV ini agar penularan kepada generasi selanjutnya, pada anak-anaknya akan lebih sedikit dan minimal sekali.    

For health workers, HIV case is a very scary disease dreaded case, but it really is not to be feared because if we are afraid of this disease.
Dealing with HIV is similar to a BOXING or a FIGHT, We will be like a fight: it would be great if we fight a battle face to face to fight rather than we are punched beaten from behind.
Well, Boxing is similar to dealing with same like HIV patients, Hence, if HIV patients disclose are not open their HIV status, it's like we were punched hit from behind. If patients open their HIV status, we can treat more precautionary compared to disclosing their HIV status. and full of awareness do face to face and more vigilant when dealing it.
Thus, if these HIV patients are embraced, they will also be more openly and we are also safer to treat them deal with these patients, more precautionary vigilant than if they disclose their HIV status do not confess. As HIV patients, it is more unsafe for us especially with non-unstandard health services, if our patients are treated serve with standard health services, we will be better protected Rather than they are disclose their HIV status.

it is more emphasized that the HIV transmission to their children will increase  will be higher if they disclose their HIV  do not confess, because the services for delivery in pregnant women with HIV positif positive differ with HIV-negative pregnant women, they need wilthan other pregnant women are more likely to have a special treatment, so the HIV transmission will decrease. So for  Finally, for all health workers, let us together embrace these HIV patients in order to decrease the transmission to the next generation.
"SHARING IS CARING"
Ummi Himada 

No comments:

Post a Comment