BAB 5
HIV/AIDS
Kompetensi Dasar
|
Mahasiswa mampu menjelaskan Epidemiologi Penyakit Menular Human Immunodeficiency Virus (HIV)
|
Indikator Keberhasilan
|
Mampu menjelaskan analisa situasi HIV
Mampu Triad Epidemiologi dan Riwayat alamiah HIV
Mampu menjelaskan penularan dan pencegahan HIV
|
Materi Pembelajaran
|
A. Analisa Situasi HIV-AIDS
B. Triad EpidemiologiHIV-AIDS
C.Riwayat Alamiah PenyakitHIV-AIDS
D.PenularanHIV-AIDS
E.PencegahanHIV-AIDS
|
BAB 5. HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)
A. Mind Mapping
B. Analisa Situasi
Diperkirakan 35 juta (33.2 - 37,2 juta) orang di dunia hidup dengan HIV pada tahun 2013, termasuk 2,1 juta [1,9 – 2,4 juta] orang dan 240000 [210 000 - 280000] kasus HIV pada anak. Pada tahun 2013, sebanyak 1,5 juta [1,4 – 1,7 juta] orang meninggal karena AIDS di seluruh dunia. Jumlah tersebut cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Di Asia dan Pasifik, diperkirakan sekitar 4,8 juta [4,1 – 5,5 juta] orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2013 termasuk 350000 [250 000 - 510000] orang infeksi HIV baru. Ahli kesehatan masyarakat di Indonesia menyatakan bahwa di Asia dan Pasifik, jumlah infeksi HIV baru cenderung menurun sekitar 6% di wilayah ini, kecuali untuk Indonesia yang mengalami kenaikan 48% sejak tahun 2005[1].
Di Indonesia, prevalensi HIV pada kelompok usia muda (15 - 49 tahun) diperkirakan sekitar 0, 27% (64,125,000) di antara 237.500.000 pada tahun 2012 (Depkes, Matematika Model Epidemi HIV di Indonesia 2008-2014). Epidemi HIV/AIDS pada mereka disebabkan oleh dua perilaku berisiko tinggi; perilaku seksual yang tidak aman dan narkoba suntik yang menggunakan jarum dan alat suntik steril atau berbagi bersama penasun lainnya [2, 3]. Namun,di dua provinsi yaitu Papua dan Papua Barat (tanah Papua), prevalensi HIV-nya sedikit lebih tinggi dari prevalensi HIV nasional, sekitar 2,4% di antara populasi umum. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan di Indonesia meningkat 10 kali pada tahun 2006 – 2011 (Depkes, Laporan Akhir Tahun Situasi HIV dan AIDS di Indonesia, 2006 dan 2011)[3]. Berdasarkan laporan dirjen P2PL, Kemenkes RI, adanya trend peningkatan signifikan kasus HIV baru dari tahun 2015 ke tahun 2016, pada kelompok risiko yang tertular melalui hubungan seksual berbeda jenis atau sama jenis (heteroseksual versus homoseksual) mencapai 2x lipat dan 3x lipat secara berturut-turut.
Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2018, http://www.aidsindonesia.or.id/list/7/Laporan-Menkes
Transmisi penularan HIV melalui hubungan seksual menyebabkan penyebaran HIV ke populasi umum. UNAIDS memperkirakan jumlah perempuan yang hidup dengan HIV pada tahun 2010 adalah 50%[4]. Menurut Badan Kesehatan Dunia-WHO, dari 430000 anak yang baru terinfeksi HIV pada tahun 2008, lebih dari 90% dari mereka terinfeksi melalui penularan dari ibu ke anak (Mother to Child HIV Transmission /MTCT)[5] . Pada tahun 2011, di Indonesia diperkirakan 8.170 ibu hamil menderita positif HIV (Depkes: 2008-2014)[3]. Prevalensi HIV di kalangan ibu hamil masih rendah sekitar 0,54% pada tahun 2009 dan 0,25% pada tahun 2010 pada masyarakat di delapan ibukota provinsi di Indonesia. Prediksi bayi lahir dengan HIV sekitar 8.604 setiap tahun. Oleh karena itu, pelaksanaan PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke anak) atau PMTCT (Prevention of Mother to Child HIV Transmission) akan dapat menyelamatkan 8.112 bayi dan menghemat sekitar 42 miliar rupiah setiap tahun[6]. Namun, berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mardhiati et al, persentase ibu hamil yang telah mengakses PMTCT masih rendah sekitar2 2,6%. Kenyataannya, sebagian besar perempuan yang mengakses PMTCT menyatakan bahwa mudah (68,9%) dan sangat mudah (19%) untuk mengakses PMTCT[7].
.
C. Definisi HIV/AIDS
HIV/AIDS adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV yang menyebabkan beberapa infeksi lainnya. Virus akan memperburuk sistem kekebalan tubuh, dan penderita HIV/AIDS rentan tertular infeksi opportunistik, seperti penyakti TBC, ganguan di otak, hati, atau menyebabkan beberapa kanker kemudian jika tanpa pengobatan yang cukup[8]. Ada beberapa poin penting dari HIV/AIDSdalam Kamus Epidemiologi dan Departemen Kesehatan Indonesia dan Badan Kesehatan Dunia-WHO.[8-10].
a. HIV pertama kali ditemukan oleh sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Luc Montagnier pada tahun 1983, adalah virus RNA diploid serat tunggal(singlestranded) dengan diameter 100-120nm.
b. HIV membalikkan transcriptase enzim, yang dapat mengkonversi RNA menjadi DNA dalam sel yang terinfeksi, kemudian mengintegrasikan dengan DNA dari sel inang dan kemudian dapat melanjutkan ke replikasi virus.
c. Human Immunodeficiency Virus(HIV) adalah organisme patogen yang menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome(AIDS), Retrovirus yang menyebabkan HIV, menular melalui darah, serum, semen, jaringan tubuh, dan cairan tubuh lainnya.
d. AIDS didefinisikan dengan adanya perkembangan kanker tertentu, infeksi, atau manifestasi klinis yang berat lainnya.
e. Dua jenis utama, HFV-1 danHFV-2, menyerang limfosit T-helper, mengurangi respon imun untuk organisme yang dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh yang sehat.
f. Human Immunodeficiency Virus(HIV) menargetkan sistem kekebalan tubuh dan melemahkan pengawasan dan sistem pertahanan tubuh manusia terhadap infeksi dan beberapa jenis kanker.
g. Sebagaivirus yang menghancurkandanmerusakfungsi sel-selkekebalan tubuh, orang yang terinfeksisecara bertahap menjadiimuno defisiensi.
h. HIV menginfeksi sel T-helper yang memiliki reseptor CD4 di permukaan, makrofag, sel dendritik, organ limfoid. Fungsi kekebalan tubuh biasanya diukur denganjumlah CD4 yang merupakan pengukuran fungsi kekebalan tubuh karena sel-selT helper, antara lain, menghasilkan bahan kimia yang bertindak sebagai stimulasi pertumbuhan dan pembentukan sel-sel lain dalam sistem dan antibodi pembentukan kekebalan tubuh. Oleh karena itu, penurunan CD4 disel T menyebabkan immunodefisiensi dan meningkatkan kerentanan dari berbagai infeksi dan penyakit.
i. Virus ini kekebalannya tidak stabil, tetapi menghasilkan antibodi yang dapat dideteksi olehWestern Blotdan tesELISA pada darah, serum, semen, air liur, dan lain-lain
j. Kebanyakan orang dengan HIV akan mati dalam beberapa tahun setelah tanda-tanda pertama AIDS muncul ketika tidak ada pengobatan dan terapi yang diberikan.
k.
D. Triad Epidemiologi HIV/AIDS
1. Agent
Virus HIV termasuk Netrovirus yang sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk menemukan obat yang dapat membunuh, virus tersebut. Daya penularan pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada di dalam darahnya, semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. Virus HIV atau virus AIDS, sebagaimana virus lainnya sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh. Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60° selama 30 menit, dan lebih cepat dengan mendidihkan air. Seperti kebanyakan virus lain, virus AIDS ini dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan lain[8].
2. Pejamu
Di dalam tubuh manusia, virus HIV ada di berbagai cairan tubuh manusia, termasuk darah, air susu, air mani (semen) dan cairan di vagina wanita. darah, dan air mani.
3. Lingkungan
Lingkungan biologis sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis adanya riwayat ulkus genitalis, Herpes Simpleks dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positif akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini menjadi tempat masuknya HIV. Faktor biologis lainnya adalah penggunaan obat KB. Pada para WTS di Nairobi terbukti bahwa kelompok yang menggunakan obat KB mempunyai prevalensi HIV lebih tinggi.
Faktor sosial, ekonomi, budaya dan agama secara bersama-sama atau sendiri-sendiri sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. Bila semua faktor ini menimbulkan permissiveness (perilaku seks bebas) di kalangan kelompok seksual aktif, maka mereka sudah dianggap immoral dengan perilaku seksual di luar norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga, perilaku seksual mereka cenderung tidak menggunakan kondom atau berdasarkan pengetahuan yang cukup untuk mencegah penularan HIV dalam perilaku seks mereka karena ada batasan norma yang berlaku di masyarakat mereka, seperti Indonesia.
E. Tanda, Gejala, dan Tahapan HIV/AIDS
Riwayat alamiah infeksi HIV dari tahap awal hingga ke tahap akhir AIDS tergantung pada kekebalan dan kondisi individu, yang memerlukan waktu 2 – 15 tahun. Orang yang hidup dengan HIV umumnya tidak menyadari tentang status HIV mereka tanpa tes HIV karena mereka terlihat sehat dan setelah beberapa minggu terinfeksi, mereka mungkin mengalami tanda-tanda dan gejala atau hanya penyakit seperti demam, sakit kepala, ruam atau sakit tenggorokan. Namun, HIV terus berkembang dan menginfeksi sel T-helper yang mengandung reseptor CD4 sampai virus ini melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan gejala lebih lanjut, termasuk pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam, diare, dan batuk, dan penyakit berat berikutnya seperti Tuberculosis, meningitis kriptokokus, dan kanker seperti limfoma dan sarkoma kaposi[8].
Ada beberapa tahapan HIV/AIDS dimulai ketika masuknya virus sampai timbulnya gejalaAIDS[11]:
1. Tahap pertama (periode jendela)
a. HIV masuk ke dalam tubuh hingga terbentuk antibodi dalam darah.
b. Penderita HIV tampak dan merasa sehat.
c. Pada tahap ini, tes HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus.
d. Tahap ini berlangsung selama 2 minggu sampai 6 bulan.
2. Tahap kedua (HIV Asimptomatik/masa laten)
a. Pada tahap ini HIV mulai berkembang di dalam tubuh.
b. Tes HIV sudah bisa mendeteksi keberadaan virus karena antibodi yang mulai terbentuk.
c. Penderita tampak sehat selama 5-10 tahun, bergantung pada daya tahan. Rata-rata penderita bertahan selama 8 tahun. Namun di negara berkembang, durasi tersebut lebih pendek.
3. Tahap ketiga (dengan gejala penyakit)
a. Pada tahap ini penderita dipastikan positif HIV dengan sistem kekebalan tubuh yang semakin menurun.
b. Mulai muncul gejala infeksi oportunistis, misalnya pembengkakan kelenjar limfa atau diare terus-menerus.
c. Umumnya tahap ini berlangsung selama 1 bulan, bergantung pada daya tahan tubuh penderita.
4. AIDS
a. Pada tahap ini, penderita positif menderita AIDS.
b. Sistem kekebalan tubuh semakin turun.
c. Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistis) menyebabkan kondisi penderita semakin parah.
Gambar 3Tipe khas infeksiHIV. Selamaperiode setelahinfeksi primer, HIVtersebarsecara luasdalam tubuh; penurunanmendadak selCD4+Tdalam sirkulasiperifersering terlihat. Respon imunterhadap HIV untuk memastikan, denganterdeteksinya penurunanviremia. Periodelatenklinis, di manajumlah sel-selCD4+Tterus menurun, sampai ke tingkatkritisdi bawah ini yangada risikobesar infeksi oportunistik. Diadaptasi dariPantaleoetal., 1993a[12]
F. TransmisiHIV/AIDS
Di Indonesia, ada dua cara utama penularan HIV/AIDS; pertama, melalui perilaku seksual yang tidak aman, khususnya di kalangan kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks perempuan, homoseksual dan transgender laki-laki. Kedua, transmisi juga terjadi melalui praktik-praktik yang tidak aman dari pengguna narkoba suntik[2]. Infeksi baru di kalangan pengguna narkoba suntik mengalami penurunan pada tahun 2008 sampai 2014 (masing-masing, 40% sampai 28%) sedangkan transmisi penularan melalui hubungan seksual pada tahun 2008 sampai 2014 mengalami peningkatan(masing-masing, 43% sampai 58%)[3]. Transmisi penularan seksual akan menghasilkan penyebaran HIV ke populasi umum.
Umumnya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara, yaitu dengan (1) hubungan seksual (vaginal, anal dan oral seks), (2) penggunaan jarum yang tidak steril atau terkontaminasi dengan HIV, di fasilitas kesehatan, pengguna narkoba suntik atau tato/tindik (3) penularan dari ibu yang terinfeksi HIV ke janin yang ada dalamrahim, yang dikenal sebagai penularan HIVdari Ibu ke anak(Mother to Child HIV Transmission/MTCT)[10]..
Dalam hubungan seksual, ada perubahan cairan seksual (cairan mani dari pria yang terinfeksi atau cairan vagina dari perempuan yang terinfeksi) dari orang yang terinfeksi dengan HIV jika melakukan hubungan seks tanpa kondom. Risiko penularan HIV akan meningkat jika ada luka atau sakit di sekitar vagina atau penis. Apalagi jika orang yang terinfeksi melakukan hubungan seksual melalui anus, maka akan terjadi risiko peningkatan penularan HIV karena lapisan anus lebih mudah terjadi kerusakan selama seks. Oral seks juga memiliki risiko rendah menularkan HIV jika orang yang terinfeksi memiliki gusi berdarah atau luka kecil di mulut dan tenggorokan mereka.
Pajanan melalui darah, produk darah, atau organ dan jaringan yang terinfeksidi fasilitas kesehatan meningkatkan risiko penularan HIVdi fasilitas kesehatan. Jarum suntik yang terinfeksi dan peralatan medis lainnya yang dapat menembus ke kulit atau ketika kontak petugas kesehatan yang telah luka dikulit dan kontak mereka dengan darah yang terinfeksi selama bekerja mereka akan berpotensi terinfeksi HIV. Pengguna narkoba suntik yang berbagi jarum suntik juga rentan terinfeksi HIVdi kalangan pengguna. Berbagi jarum suntik di kalangan pengguna narkoba suntik, jarumyang tidak steril selama tato atau tindik, dan transmisi darah yang terinfeksi dan transplantasi organ juga termasuk faktor risiko penularan HIV. Penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, melahirkan (normal), dan menyusui meningkatkan risiko penularan HIV pada 2-5 anak dari 10 anak yang dilahirkan 10 ibu positif HIV [10, 14, 15]..
Gambar 5. HIV dapat menular melalui; hubungan seksual, penggunaan narkoba suntikan, kehamilan, persalinan, dan menyusui, paparan selama bekerja, transfusi darah/transplantasi organ[14]
G. Pencegahan HIV/AIDS
Upaya pencegahan HIV/AIDS dapat berjalan efektif apabila adanya komitmen masyarakat dan pemerintah untuk mencegah atau mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV. Berikut ini merupakan upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah penularan HIV/AIDS[8, 16]::
1. Penyuluhan Kesehatan
Melakukan penyuluhan kesehatan di sekolah dan masyarakat mengenai prilaku risiko tinggi yang dapat menularkan HIV.
2. Tidak melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, atau hanya berhubungan seks dengan satu orang saja yang diketahui tidak terinfeksi HIV.
3. Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual
Penggunaan kondom yang benar saat melakukan hubungan seks baik secara vaginal, anal, dan oral dapat melindungi terhadap penyebaran infeksi menular seksual (IMS). Fakta menunjukkan bahwa penggunaan kondom lateks pada laki-laki memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap HIV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya sebanyak 5%.
4. Menyediakan fasilitas Konseling dan Tes HIV Sukarela (Voluntary Counselling and Testing/VCT)
Konseling dan Tes HIV secara sukarela ini sangat disarankan untuk semua orang yang terkena salah satu faktor risiko sehingga mereka mengetahui status infeksi serta dapat melakukan pencegahan dan pengobatan dini.
5. Melakukan sunat bagi laki-laki
Sunat pada laki-laki yang dilakukan oleh profesional kesehatan terlatih dan sesuai dengan aturan medis dapat mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual sekitar 60%.
6. Menggunakan Antiretroviral (ART)
Sebuah percobaan yang dilakukan pada tahun 2011 telah mengkonfirmasi bahwa orang HIV-positif yang telah mematuhi pengobatan Antiretroviral (ART), dapat mengurangi risiko penularan HIV kepada pasangan seksual HIV-negatif sebesar 96%.
7. Pengurangan dampak buruk (Harm Reduction) bagi pengguna narkoba suntikan
Pengguna narkoba suntikan dapat melakukan pencegahan terhadap infeksi HIV dengan menggunakan alat suntik steril untuk setiap injeksi atau tidak berbagi jarum suntik kepada pengguna lain.
8. Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (Prevention ofMother to Child HIV Transmission/PMTCT)
Penularan HIV dari ibu ke anak (Mother to Child HIV Transmission/MTCT) selama kehamilan, persalinan, atau menyusui jika tidak diberikan intervensi maka tingkat penularan HIV dari ibu ke anak dapat mencapai 15-45%. WHO merekomendasikan, pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dapat dilakukan dengan cara; pemberian ARV untuk ibu dan bayi selama kehamilan, persalinan dan pasca persalinan, dan memberikan pengobatan untuk wanita hamil dengan HIV-positif. Pada tahun 2013, diperkirakan 67% [62-73%] dari1,4[1,3-1,6] jutaibu hamilyang hidup dengan HIVdi negara-negaraberpenghasilan rendah danmenengahmenerima obatantiretroviral (ARV) yang efektifuntuk mencegah penularan HIVkepada anak-anakmereka, naik dari 47% pada tahun2009.
9. Berdasarkan peraturan dan kebijakan USFDA, untuk mencegah terjadinya kontaminasi HIV pada plasma dan darah, maka semua donor darah harus diuji antibodi HIV-nya, hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan. Orang yang mempunyai perilaku risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak mendonorkan darah, plasma, transplantasi organ, sel, jaringan, cairan semen, dan sebagainya.
10. Melakukan Tindakan Kewaspadaan Universal bagi petugas kesehatan
Bagi petugas kesehatan, harus berhati-hati dalam menangani pasien, memakai dan membuang jarum suntik agar tidak tertusuk, menggunakan APD (sarung tangan lateks, pelindung mata dan alat pelindung lainnya) untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang kemungkinan terinfeksi HIV. Setiap tetes darah pasien yang mengenai tubuh harus segera dicuci dengan air dan sabun. Tindakan kehati-hatian ini harus di lakukan pada semua pasien dan semua prosedur laboratorium (tindakan kewaspadaan universal).
H. Pengobatan
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat diatasi dengan kombinasi Antiretroviral (ART) yang terdiri dari 3 atau lebih obat ARV. Namun, ART ini bukan merupakan obat yang dapat menyembuhkan infeksi HIV, tetapi hanya mengontrol replikasi virus pada tubuh penderita serta memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga infeksi HIV tidak menjadi lebih parah. Pada akhir tahun 2013, sekitar 11,7 juta orang HIV-postif di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah telah menerima pengobatan ART, 740.000 diantaranya adalah anak-anak. Cakupan pemakaian ART pada anak-anak masih rendah yaitu hanya 1 dari 4 anak yang menerima pengobatan ART dibandingkan dengan 1 dari 3 orang dewasa. Dari semua orang dewasa HIV-positif 37% yang menerima pengobatan ART, namun dari semua anak yang hidup dengan HIV hanya 23% yang menerima pengobatan ART pada tahun 2013[8].
Fase Pre-Patogenesis
|
Fase Patogenesis
| |||
Pencegahan Primer
Pencegahan perkembangan awal penyakit
|
Pencegahan Sekunder
Deteksi awal keberadaan penyakituntuk mengurangi tingkat keparahan dan komplikasi
|
Pencegahan Tersier
Pengurangan dampak dari penyakit
| ||
TUJUAN:
Mengurangi insiden penyakit
|
Mengurangi prevalensi penyakit dengan memperpendek riwayat alamiah penyakit
|
Mengurangi jumlah dan dampak komplikasi
| ||
Promosi Kesehatan
|
Perlindungan umum dan spesifik
|
Diagnosis awal dan perawatan tepat waktu
|
Pembatasan ketidakmam- puan
|
Rehabilitasi
|
Pendidikan Kesehatan reproduksi bagi remaja dan ibu rumah tangga
Pendidikan seks aman bagi wanita pekerja seksual
|
Penggunaan jarum suntik steril bagi pengguna narkoba suntik
Penggunaan kondom bagi kelompok yang melakukan seks berisiko
Tes darah bagi donor darah
|
Tes dan Konseling Sukarela dan terpadu (Voluntary and Counselling Testing)
|
Terapi dan pengobatan Anti retroviral virus (ARV)
|
Pengobatan pencegahan infeksi opportunistik
Psikologis, motivasi ODHA, merangkul ODHA (Orang dengan HIV-AIDS), tidak stigma dan diskriminasi
|
I. Kesimpulan
HIV/AIDS adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV yang menyebabkan beberapa infeksi lainnya. Virus akan memperburuk sistem kekebalan tubuh, dan penderita HIV/AIDS akan menderita penyakit sertaan atau infeksi opportunistik 5-10 tahun kemudian jika tanpa pengobatan yang cukup. Umumnya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara, yaitu dengan (1) hubungan seksual (vaginal, analdanoral seks), (2) penggunaan jarum yang tidak steril atau terkontaminasi dengan HIV, di fasilitas kesehatan, pengguna narkoba suntik atau tato/tindik (3) penularan dari ibu yang terinfeksi HIV ke janin yang ada dalam rahim, yang dikenal sebagai penularan HIV dari Ibu ke anak(Mother to Child HIV Transmission/MTCT).
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah penularan HIV/AIDS berupa : penyuluhan kesehatan, tidak melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual, menyediakan fasilitas Konseling dan Tes HIV Sukarela, melakukan sunat bagi laki-laki, menggunakan Antiretroviral, pengurangan dampak buruk bagi pengguna narkoba suntikan, pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, semua donor darah harus diuji antibodi HIV-nya, serta melakukan tindakan kewaspadaan universal bagi petugas kesehatan. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat diatasi dengan kombinasi Antiretroviral (ART) yang terdiri dari 3 atau lebih obat ARV. Namun, ART ini bukan merupakan obat yang dapat menyembuhkan infeksi HIV, tetapi hanya mengontrol replikasi virus pada tubuh penderita serta memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga infeksi HIV tidak menjadi lebih parah.
1. Apakah yang dimaksud dengan HIV ?
2. Apakah yang dimaksud dengan AIDS ?
3. Bagaimana virus HIV bisa menimbulkan rusaknya sistem kekebalan manusia ?
4. Bagaimana gejala HIV ?
5. Kapankah seseorang terkena AIDS ?
6. Seberapa cepat HIV bisa berkembang menjadi AIDS ?
7. Dimanakah virus HIV berada ?
8. Apakah CD4 itu ?
9. Apa fungsi sel CD4 ini sebenarnya ?
10. Bagaimana infeksi HIV dapat dicegah?
DAFTAR PUSTAKA
1. UNAIDS. Factsheet of HIV-AIDS. 2014 [cited; Available from: http://www.unaids.org/en/resources/campaigns/World-AIDS-Day-Report-2014/factsheet.
2. Commission., N.A., Executif Summary, Nation Action strategy and Plan to overcome HIV/AIDS 2010-2014. 2010, Jakarta: National AIDS Commission.
3. Indonesian National AIDS Commission, Republic of Indonesia Country Report on the Follow up to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS (UNGASS). Reporting Period 2010-2011. 2012, Jakarta: Indonesian National AIDS Commission.
4. (CEEHRN), C.a.E.E.H.R.N. and U. . Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) (2005). 2002.
5. World Health Organisation, Priority Intervention, in HIV/AIDS prevention, treatment and care in health sector. 2010.
6. Muhaimin, T. and Besral, PREVALENSI HIV PADA IBU HAMIL DI DELAPAN IBU KOTA PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2003-2010. MAKARA KESEHATAN, 2011. Vol. 15(2): p. 93-100.
7. Mardhiati, R., Nanny Harmani, and Tellys Corliana, PENCEGAHAN PENULARAN HIV PADA PEREMPUAN USIA REPRODUKSI & PENCEGAHAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN PADA PEREMPUAN DENGAN HIV. Jurnal Lemlit UHAMKA.
8. WHO. HIV / AIDS
Fact sheet N°360 Updated November 2014 [cited; Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs360/en/
9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa dan Remaja. 2012.
10. Kementrian Kesehatan RI, Pedoman nasional pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak 2012, 2012: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan-Kemenkes RI.
11. Komunitas AIDS Indonesia (2009) Bagaimana HIV menjadi AIDS?Volume,
12. National Institues of Health U.S. Department of Health and Human Services (2013) The Relationship Between the Human Immunodeficiency Virus and the Acquired Immunodeficiency Syndrome. Volume,
13. The Naked Scientists The Science of HIV & AIDS in the UK. Volume,
14. AVERTing HIV and AIDS (2014) Can You Get HIV From. Volume,
15. The U.S. Department of Health & Human Services (2014) HOW DO YOU GET HIV OR AIDS?Volume,
16. Chin, J. and I.N. Kandun, Manual Pemberantasan Penyakit Menular. 2000, Infomedika: Jakarta.








No comments:
Post a Comment